Selasa, 08 Mei 2012

cerpen : Potongan-Potongan Cerita di Kartu Pos

oleh : agus noor
SAYA mendapat beberapa kiriman kartu pos dari Agus Noor. Pada setiap kartu pos
yang dikirimnya, ia menuliskan cerita -tepatnya potongan-potongan cerita- tentang
Maiya. Berikut inilah cerita yang ditulisnya pada kartu pos-kartu pos itu:
Kartu Pos Pertama & Kedua
MAIYA terpesona melihat kemilau kalung manik-manik itu. Tak pernah Maiya
melihat untaian kalung seindah itu. Pastilah dibuat oleh pengrajin yang teliti dan rapi.
Ada juga anting-anting, bros dan gelang. Maiya menyangka semua perhiasan itu
terbuat dari berlian.
"Ini bukan berlian, Nyonya," jelas perempuan itu. "Ini manik-manik airmata…"
Maiya memandangi perempuan yang duduk bersimpuh di hadapannya. Mungkin
usianya sekitar 35 tahunan. Kulitnya kecoklatan. Bedak tipis sedikit memulas
kelelahan di wajahnya. Memakai rok terusan kembang-kembang, terlihat kucel, dan
malu-malu. Saat tadi muncul menenteng tas abu-abu, dan tak beralas kaki, Maiya
menyangka perempuan itu hendak minta sumbangan.
"Sungguh, Nyonya. Ini butir-butir airmata yang mengeras. Kami menyebutnya biji-biji
airmata. Seperti butiran beras kering berjatuhan dari kelopak mata…"
Perempuan itu pun terus bercerita, membuat Maiya makin terpesona.
Kartu Pos Ketiga, Empat & Lima
SAAT Maiya datang ke arisan memakai kalung manik-manik itu, semua terbelalak
memuji penampilannya yang chic. Maiya melirik ke arah Andien yang muncul
menenteng tas koleksi terbaru Herm├ęs -tapi tak seorang pun memujinya. Semua
perhatian tersedot kalung manik-manik yang dikenakan Maiya. Membuat Mulan yang
memakai bustier dan rok flouncy Louis Vuitton hanya bersandar iri menyaksikan
Maiya jadi pusat perhatian. Dengan penuh gaya Maiya bercerita soal kalung manikmanik
yang dikenakannya. Dan semua berdecak mendengarnya. "Begitulah yang
dikatakan perempuan itu pada saya. Manik-manik ini berasal dari airmata."
"Jadi itu manik-manik airmata?" tanya Mulan, terdengar sinis. "Jangan-jangan airmata
buaya, ha ha…"
Andien ikut tertawa. Yang lain terus menyimak cerita Maiya.
"Lihat saja bentuknya, persis airmata yang menetes. Begitu halus. Bening. Berkilauan...
Lebih indah kan ketimbang yang bermerek? Lagi pula gue emang nggak brand
minded, kok!" Lalu Maiya melirik Mulan yang beringsut mengambil cocktail.
Dari jauh Andien dan Mulan memandangi Maiya. "Ngapain juga mereka mau dengerin ceritanya yang nggak masuk akal itu," cibir
Mulan.
"Dia cuma cari perhatian," ujar Andien. "Gue tahu kok, dia nggak bahagia. Sudah
nggak lagi dapat perhatian. Dani mulai selingkuh..."
Mulan hanya mendengus.
Kartu Pos Keenam
DANI hanya tertawa ketika Maiya memperlihatkan kalung manik-manik itu.
"Di Tanah Abang juga banyak," komentarnya pendek, sambil mematut diri di depan
kaca, menyemprotkan parfum. Baru dua jam Dani balik ke rumah, kini hendak keluar
lagi.
"Ini beda. Lihat deh…"
"Sorry, aku mesti pergi." Lembut Dani mencium kening Maiya. Maiya ingin menahan.
Ingin bercerita, betapa sejak ia punya kalung itu ia selalu mendengar suara tangis yang
entah dari mana datangnya. Suara tangis yang bagai merembes dari dalam mimpinya.
Tangis yang selalu didengarnya setiap malam, saat ia tidur sendirian. Maiya ingin
menceritakan itu semua, tapi Dani sudah tergesa keluar menutup pintu kamar.
Kartu Pos Ketujuh
MOBIL meluncur pelan di bawah gemerlap malam.
"Tadi gue iri ama Maiya. Dia pakai kalung manik-manik. Bagus banget. Katanya
terbuat dari airmata."
"Ha ha."
"Kamu beliin, ya?"
"Nggak."
"Beli di mana?"
"Aku nggak beliin!"
"Kok aku nggak dibeliin?"
"Masa kamu nggak percaya. Aku bener-bener nggak beliin!"
Mulan diam, memandang jalanan yang bermandi cahaya. Segalanya terlihat
berkilauan. Kota seperti akuarium raksasa yang digenangi cahaya. Dan ia seperti
mengapung kesepian di dalamnya.
"Apa Maiya ngerasa soal kita, ya?"
Dani hanya diam, melirik Mulan yang bersandar di sampingnya. Sementara mobil
terus meluncur pelan di bawah gemerlap malam.
Kartu Pos Kedelapan, Sembilan, Sepuluh & Sebelas
SUARA tangis itu mengalir menggenangi mimpinya. Dari segala penjuru, airmata
mengalir membanjir menenggelamkan kota. Maiya seperti berada di kota bawah laut.
Mobil-mobil menjelma terumbu karang. Orang-orang terlihat seperti ganggang. Suara tangis terus merembes dari gedung-gedung yang penuh lumut. Suara tangis itu juga
menjelma gelembung-gelembung air yang keluar dari selokan yang mampet. Maiya
menyelam bagai putri duyung dalam dongeng. Ia melihat suaminya terapung seperti
gabus. Ia melihat kedua anak kembarnya menjelma ubur-ubur. Airmata telah
menenggelamkan kota!
Dan di puncak Monas yang telah tenggelam dalam linangan airmata, Maiya melihat
seorang penyair berdiri membaca puisi. "Tanah airmata tanah tumpah dukaku. Mata
air airmata kami. Airmata tanah air kami… Di sinilah kami berdiri, menyanyikan
airmata kami… Kemana pun melangkah, kalian pijak airmata kami… Kalian sudah
terkepung, takkan bisa mengelak, takkan bisa ke mana pergi. Menyerahlah pada
kedalaman airmata kami..."1 Suaranya perlahan meleleh dan mencair, menjelma
gelombang airmata.
Saat tergeragap bangun, Maiya mendapati tubuhnya kebah. Suara tangis yang
mengapung itu masih didengarnya. Maiya mengira itu tangis anaknya. Tapi ia
mendapati Faizi dan Fauzi tertidur tenang di kamarnya. Tangis itu merembes dari
balik dinding dan menggenangi ruangan. Maiya tercekat ketika memandangi kotak
perhiasan di atas meja, di mana ia menyimpan kalung manik-maniknya. Tangis itu
datang dari kotak perhiasan itu, seperti muncul dari gramafon tua.
Gemetar tak percaya, Maiya kembali naik ke tempat tidurnya. Lalu menyadari, tak ada
Dani di ranjang. Perlahan ia mulai terisak.
Kartu Pos Keduabelas, Tigabelas & Empatbelas
"HAMPIR setiap malam aku mendengar tangis itu," Maiya bercerita sambil bersandar
ke pundak Andien. "Mungkin itu memang airmata purba yang berabad-abad
terpendam dan menjadi fosil. Menjadi batu granit. Lalu mereka membikinnya jadi
kalung manik-manik."
Andien tersenyum, kemudian mengecup bibir Maiya pelan. Berciuman dengan Maiya
seperti menikmati mayonnaise yang lembut dan gurih. Andien memandangi wajah
Maiya yang mengingatkannya pada roti tawar yang diolesi mentega. Bertahun-tahun
diam-diam menjalin hubungan dengan Maiya membuat Andien mengerti, saat ini
Maiya membutuhkannya untuk menjadi seorang pendengar. Aroma chamomile yang
menguar dalam kamar membuat Maiya perlahan lebih rileks. Andien tahu, Maiya
belakangan makin terlihat rapuh. Mungkin karena perkawinannya dengan Dani yang
sedang bermasalah, tapi berusaha ditutup-tutupi. Dan soal kalung manik-manik yang
selalu dikatakannya terbuat dari airmata itu hanya kompensasi untuk menutupi
kegelisahannya.
"Apa kamu juga nggak percaya?" Maiya menggeliat, menatap Andien.
"Mungkin itu memang manik-manik airmata. Kenapa tak kau buktikan saja sendiri?
Kamu bisa cari alamat perempuan itu."
Maiya mendekatkan kalung manik-manik itu ke telinga Andien, "Dengerin, deh…" Andien merinding, ketika ada dingin yang mendesir, dan ia seperti mendengar isak
tangis keluar dari kalung manik-manik yang berkilauan itu.
Kartu Pos Kelimabelas & Enambelas
INI perjalanan paling aneh, seperti mencari alamat yang tak ada dalam peta. Jalanan
yang becek penuh lubang membuat mobil tak bisa masuk ke perkampungan itu. Bau
kayu busuk dan tai kerbau membuat perut mual. Seseorang menunjuk arah yang
ditanyakan Maiya dan Andien. Rumah itu reyot nyaris ambruk. Seperti semua rumah
di perkampungan ini. Atap-atap rumbia yang melorot terlihat kelabu tertutup debu.
Maiya meyakinkan diri, betapa ia tidak memasuki ruang dan waktu yang salah.
Sungguh, Maiya tak pernah menyangka bahwa ada tempat sebegini kumuh dan
terbelakang. Ini dunia yang tak pernah ia lihat dalam majalah-majalah life style yang
selalu dibacanya.
"Kita masih di Indonesia, kan?"
Andien nyaris tertawa mendengar perkataan Maiya. Tapi ia langsung menutup mulut
ketika puluhan anak-anak kurus kumuh berperut buncit memandanginya dengan
tatapan nanar.
Kartu Pos Ketujuhbelas, Delapanbelas & Sembilanbelas
MAIYA dan Andien duduk di bale-bale, mendengarkan laki-laki tua itu bercerita.
Maiya segera tahu, laki-laki itu adalah yang dituakan di kampung ini.
"Kalian lihat sendiri anak-anak di sini. Kurus karena busung lapar. Bayi-bayi lahir
sekarat. Ibu-ibu tak lagi bisa menyusui. Susu mereka kering. Kelaparan mengeringkan
semua yang kami miliki. Mengeringkan airmata kami. Sudah lama kami tak bisa lagi
memangis. Buat apa menangis? Tak akan ada yang mendengar tangisan kami. Bahkan
begitu lahir, bayi-bayi di sini tak lagi menangis. Kami terbiasa menyimpan tangis
kami. Membiarkan tangis itu mengeras dalam kepahitan hidup kami. Mungkin karena
itulah, perlahan-lahan tangisan kami mengristal jadi butiran airmata. Dan pada saatsaat
kami menjadi begitu sedih, butir-butir airmata yang mengeras itu berjatuhan
begitu saja dari kelopak mata kami." Laki-laki tua itu menarik nafas pelan. "Kalian lihat
sendiri…"
Maiya melihat ke pojok yang ditunjuk laki-laki tua itu. Di atas dipan tergolek bocah
berperut busung. Tangan dan kakinya kurus pengkor. Mulutnya perot. Tulang-tulang
iga bertonjolan. Matanya kering. Dan Maiya terpana ketika menyaksikan dari
sepasang mata bocah itu keluar berbutir airmata. Seperti biji-biji jagung yang
berjatuhan dari sudut kelopaknya yang bengkak.
"Begitulah, kami mengumpulkan butian-butiran airmata kami. Kemudian kami
menguntainya jadi bermacam kerajinan dan perhiasan. Dengan menjual manik-manik
airmata itu kami bisa bertahan hidup."
Andien meremas tangan Maiya yang terdiam memandangi butir-butir airmata yang terus keluar dalam kelopak mata bocah itu. Terdengar bunyi kletik… kletik… ketika
butir-butir airmata itu berjatuhan ke dalam baskom yang menampungnya.
Kartu Pos Keduapuluh
MALAM itu Maiya sendirian dalam kamar. Sudah dua hari Dani tak pulang. Rasanya
ia ingin menangis. Tapi ia hanya berbaring gelisah di ranjang. Sesekali ia melirik ke
meja riasnya, di mana tergeletak kalung manik-manik airmata itu. Ia kini mengerti,
mengapa setiap malam ia mendengar suara tangis yang bagai menggenangi kamar.
Setiap butir manik-manik airmata itu memang menyimpan tangisan yang ingin
didengarkan.
Alangkah lega bila bisa menangis, desah Maiya sembari memejam mendengarkan lagu
yang mengalun pelan dari stereo set yang ia putar berulang-ulang. Menangislah bila
harus menangis...2 Sudah berapa lamakah ia tak lagi menangis? Mungkinkah bila ia
terus menahan tangis, airmatanya juga akan membeku menjadi manik-manik airmata?
Kartu Pos Terakhir
KETIKA Maiya tertidur, ia merasakan ada bebutiran airmata perlahan jatuh bergulir
dari pelupuk matanya yang membengkak…
***
TIGA bulan setelah menerima kartu pos terakhir, saya mendapat kiriman paket. Isinya
kalung manik-manik yang begitu indah. Pada secarik kertas, Agus Noor menulis: Ini
kalung manik-manik airmata Maiya.
Saya meremas surat itu, dan membuangnya. Saya pikir, setelah bercerai dengan Maiya,
saya tak akan diganggu hal-hal konyol macam ini. Benarkah ini manik-manik airmata
Maiya? Saya pandangi kalung manik-manik itu. Memang bentuknya seperti butiran
airmata yang mengeras.
Mulan muncul dari dalam kamar, dan melihat kalung manik-manik yang tengah saya
pandangi.
"Apa tuh, Dan?"
"Ehmm..." Saya tersenyum, memeluk pinggang Mulan. "Ini aku beliin kalung buat
kamu."
***

Poskan Komentar